Seorang gadis yang biasa disapa Lisa tengah berjalan sendirian di koridor sekolah. Sekolah sudah sepi karena jam telah menunjukkan pukul 6 sore. Hanya ada beberapa orang di pinggir lapangan yang sedang membereskan perlengkapan seusai latihan ekstrakulikuler.
Sampai di gerbang, Lisa melihat seorang lelaki yang tak asing baginya berada diseberang jalan dengan seorang gadis berambut hitam panjang yang memakai seragam sekolah sama sepertinya. lelaki itu adalah Deon. Kekasihnya.
Perasaan curiga menghampiri hati Lisa. Dia resah. Dan juga takut. Takut menerima kebenaran dari gosip-gosip yang sering beredar disekolahnya yang mengatakan bahwa Deon berselingkuh dengan adik kelas yang baru pindah ke sekolah dan mendadak populer dikalangan sekolah.
Lisa ingin menyebrangi jalan dan menghampiri mereka, untuk memastikan kebenaran gosip-gosip tersebut kalau saja mobil jemputannya tidak datang secepat itu. Diurungkannya keinginanannya. Lisa berpikir masih ada hari esok. Dan kemudian masuk kedalam mobil.
Malam telah larut. Namun, dikamarnya, Lisa masih belum bisa memejamkan mata. Dia masih kepikiran tentang kejadian sore tadi. Lisa ingin menghubungi Deon guna memastikan penglihatannya. Tapi, Lisa ingat bahwa Deon sangat tidak suka jika diganggu pada malam hari, apalagi jika besok adalah hari sekolah. Sambil menatap langit-langit kamar, Lisa terbayang akan pertemuan awal mereka dalam klub drama disekolah. Lisa merupakan gadis yang pendiam kala itu.
Lisa memasuki ruangan latihan drama di lantai 2 disekolahnya. Saat itu hanya ada lelaki dengan postur tubuh tinggi dan kulit putih bersih serta rambutnya yang sedikit ikal di dalam ruangan itu. Lisa duduk di bangku yang tersedia dan memainkan ponselnya untuk menghilagkan gugup karena terus ditatap oleh lelaki yang tidak dia ketahui namanya. Tak lama kemudian, masuk beberapa murid lain yang juga mengikuti klub drama ini. dan juga diikuti guru pembimbing klub drama.
setelah membagi peran, ternyata Lisa mendapat peran utama dan dipasangkan dengan lelaki tadi yang bernama Deon. Lama-kelamaan mereka semakin akrab karena sering berinteraksi dalam proses latihan drama. setelah pertunjukan drama yang diadakan disekolah selesai, Deon mengajak Lisa duduk di bangku panjang di belakang panggung. "kamu percaya kalau yang kukatakan tadi sungguhan?" Lisa mengerutkan keningnya tak mengerti. "Aku nggak ngerti ." Deon menatap Lisa dan menggenggam tangannya "Aku mencintaimu. dan ini sungguhan ." Lisa hanya diam tak menyahut, tetapi didalam hatinya, Ia bersorak gembira karena Lisa juga mencintai Deon. Deon akan melepaskan genggaman tangannya saat dalam beberapa detik Lisa hanya diam. tapi, Lisa menahan tangannya. "Aku juga mencintaimu ," dan Lisa mengembangkan senyumnya.
Lisa memejamkan matanya yang mulai terasa berat,
Pagi hari yang cerah, Lisa sampai disekolahnya dan berjalan memasuki kelasnya. Belum ramai murid-murid yang datang. Lisa meletakkan tasnya dan berjalan ke lantai dua menuju kelas Deon. Ketika mencapai tangga, Lisa bertemu Deon dan membalas senyuman yang diberikan Deon. "Kamu kemarin sore sama siapa?" tanya Lisa memulai percakapan. Deon tak langsung menjawab "memangnya kenapa?" "aku melihatmu di seberang sekolah dengan Dinda."
Mereka terus berjalan samapai ke kelas Deon dan berhenti didepan kelas. "aku mengantarnya pulang" sahut Deon jujur. "kamu ada hubungan apa sama dia?" Lisa mulai meninggikan suaranya. Dia semakin resah sekarang. Dipandangnya terus wajah Deon.
"aku dan dia hanya....." bunyi bel memutuskan percakapan mereka. Lisa kembali kekelasnya dangan perasaan tak tenang. Dia butuh penjelasan. Dia sangat ingin membawa Deon ke belakang sekolah dan memaksanya menjelaskan hubungannya dengan Dinda. Tapi, tentu saja itu tak mungkin terjadi. Jam pertama ini, dikelasnya ada ulangan Bahasa Indonesia.
Saat istirahat, Lisa tak bisa menemui Deon, karena dia harus mencari bahan materi untuk dipersentasekan pada jam selanjutnya di perpustakaaan. Ditelusurinya rak buku bagian Sosiologi. Diraihnya buku itu dan membawanya ke meja yang disediakan. sampai disana, matanya tak sengaja melihat kearah rak buku yang berisikan buku sastra yang disana terdapat Deon dan Dinda yang tengah memegang buku yang sama. mereka terlihat seperti pasangan kekasih. Hal ini mampu membuat hati Lisa kacau. Diraihnya buku yang dibawanya dan menggeser kursinya asal yang menibulkan suara yang cukup keras. Tapi dia tak peduli, Lisa berjalan keluar Perpustakaan. Deon yang melihatnya hanya menghela napas pelan.
Selama persentase, Lisa tak banyak bicara. dia menyerahkan semua pada teman satu kelompoknya. Gurunya sudah beberapa kali menegur Lisa karena ketidakaktifannya. Lisa tetap tidak peduli. Dia sedang kacau. Dia sedang terluka dan sakit di hatinya.
Pulang sekolah, Lisa tak seperti biasanya yang menunggu Deon untuk mengantarnya pulang. Lisa langsung berjalan keluar gerbang untuk menunggu taksi yang lewat. Sudah setengah jam lebih dia menunggu tapi taksi tak kunjung datang. sampai didengarnya suara yang familiar ditelinganya dari belakang tubuhnya "Lisa" Lisa tak ingin membalikkan kepalanya. Dia tak ingin menatap wajah Deon. Dan memilih tetap berada di posisinya. Tetapi, Deon membalikkan tubuhnya sehingga mereka berhadap-hadapan. Deon meraih pergelangan tangan Lisa dan menyuruhnya naik ke jok motornya. Lisa menurutinya.
Mereka sampai di taman kota yang sering mereka kunjungi. selama beberapa menit, suasana hening, tak ada yang memulai percakapan. kemudian, Deon menatapnya, "Kamu kenapa jutek gitu? terus kenapa nggak nunggu aku pulang?" Lisa hanya diam, malas menjawab pertanyaan Deon. Bahkan meliriknya saja Dia enggan. "Lisa" panggil Deon lembut. "lagi badmood" jawabnya singkat. "badmood kenapa?" tanya Deon lagi masih belum menyerah.
"aku mau kamu jelasin hubungan kamu dengan si Dinda."
"kelihatannya kamu cemburu ya?"
"apaan sih, aku cuma nggak suka aja. bukan cemburu," Lisa memutar matanya kesal. Bibirnya yang kecil tampak mengerucut. Deon hanya terkekeh melihat tingkah Lisa yang kekanakan.
"Dinda itu adik aku,"
Lisa menatap tak percaya pada Deon. Mulutnya ternganga dan matanya melebar mendengar pernyataan dari Delon. Lisa masih belum mengerti bagaimana bisa mereka kakak beradik. Selama ini Deon tidak pernah cerita mengenai keluarganya. "kenapa nggak ngomong?"
"tadikan udah" Deon malah menatap Lisa tidak mengerti.
"maksudnya sebelum-sebelumnya. kamu nggak pernah cerita ke aku kalau ternyata kamu punya adik."
"kamu nggak nanya,"
"isshhh nyebelin banget sih"
Deon mengembangkan senyumnya melihat kekasihnya. "sekarang, percaya sama aku kan? Aku cuma cinta sama kamu" Lisa mengangguk dan tersenyum manis pada Deon.
END